Warga Dayak Lawangan Harapkan Kasus Dugaan Pengrusakan Rumah Tulang Temukan Titik Terang

Rumah Tulang (Tabla) Erai Pakat, yang tulang belulang di dalamnya berserakan oleh insiden (foto: Iwan Prast)
Rumah Tulang (Tabla) Erai Pakat, yang tulang belulang di dalamnya berserakan oleh insiden (foto: Iwan Prast)

NITENI – Rumah tempat tulang belulang atau tengkorak penganut Agama Kaharingan, di kalangan Suku Dayak Lawangan, merupakan tempat yang bukan saja disakralkan, tapi juga memiliki makna historis serta filosofis. Demikian juga dengan rumah tulang atau Tabla, yang diberi nama Erai Pakat (Satu Kemufakatan, dalam Bahasa Indonesianya), di Desa Netampin, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.

Maka sangat wajar jika para warga Lawangan di desa tersebut, ataupun di desa lainnya yang tulang belulang leluhurnya ditempatkan di Tabla Erai Pakat mendadak menjadi porak poranda. Mereka menduga keras, ada pihak yang merusak tempat tersebut. Walaupun indikasi sementaranya adalah tertabrak tidak sengaja oleh kendaraan jenis truk.
Menurut warga yang tulang belulang leluhur mereka berserakan, akibat benturan keras ke bangunan Tabla, patung kepala kerbau tang ada di atas peti besar tempat tulang belulang, sampai jatuh ke bawah. Dan hamburannya, menjatuhi pula areal pekuburan Kristen, yang tepat bersebelahan.

“Sayang warga kami yang berlari ke kejadian dan kemudian menjadi saksi penyidikan, tidak melihat secara jelas wajah pengemudi juga nomor polisi kendaraan tersebut. Karena kejadiannya malam hari, dan penerangan pun tidak mendukung,” papar Wartamin dan Madi, dua warga Lawangan setempat mewakili kerabat mereka.

Atas kejadian ini, para warga telah melaporkan ke pihak berwajib. Mereka berharap, kasus ini dapat diungkap agar tidak terulang lagi ke depan.” Atas masalah dugaan pengrusakan tersebut, kami berharap pihak berwenang akan mengusut tuntas. Yang kami inginkan adalah titik terang, siapa pelakunya, juga apa motifnya. Mungkin memang tidak sengaja, karena kecelakaan, misalnya. Tapi ada sikap tanggungjawab yang ditunjukkan,” ucap mereka secara terpisah.

Adapun mengenai berserakannya tulang-tulang tengkorak maupun tulang belulang lainnya, tidak bisa dipunguti atau diletakkan ulang kembali begitu saja. Melainkan harus melalui prosesi khusus, yang melibatkan para pemuka adat. Seperti Demang, Penghulu/Mantir dan lainnya.

Untuk itulah, para warga Lawangan di Netampin maupun desa lain, yang tulang belulangnya keluarganya berada di Tabla Erai Pakat, tadi sore sampai menjelang malam (Minggu, 9/11) bermusyawarah menentukan langkah untuk menggelar ritual adat. Agar tulang belulang jenazah keluarga dapat diletakkan kembali ke tempat semestinya.**

Penulis: Iwan Prast

Baca Juga