Catatan Akhir Tahun 2021, PKS: Bidang Energi Masih Merah

Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, minta Pemerintah tidak mengaitkan ketentuan pajak karbon dengan kenaikan tarif listrik di tahun 2022.
Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, minta Pemerintah tidak mengaitkan ketentuan pajak karbon dengan kenaikan tarif listrik di tahun 2022.

NITENI - Kinerja Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf di bidang energi tahun 2021, menurut anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, masih belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Prestasinya masih datar-datar saja bahkan cenderung merah.

Katanya, Pemerintah perlu evaluasi secara mendalam berbagai kebijakan energi. Jangan latah sekedar ambil muka dunia internasional atau mendewakan investor. Harusnya benar-benar berorientasi pada kesejahteraan rakyat dan keamanan nasional.

"Transisi energi bersih, baik listrik maupun BBM menuju net zero carbon emmision, terkesan hanya membebek dan didikte oleh konstelasi global baik dalam skema/standar COP-26 maupun  EURO-4, tanpa betul-betul menghitung dengan cermat konsekuensinya bagi kesejahteraan rakyat.

Akibatnya yang muncul adalah kebijakan energi dengan harga mahal yang mengorbankan rakyat. Pemerintah secara serentak di akhir Desember 2021 dan di awal tahun 2022 telah dan akan menaikan harga gas LPG, tarif listrik dan menghapus Premium, yang menyisakan BBM mahal," jelas Mulyanto.

Secara khusus, lanjut Mulyanto, kinerja sektor migas baik impor, lifting, maupun pembangunan kilang masih terkesan merah.

Impor migas, terutama BBM dan LPG, bukannya menurun, bahkan terus melonjak, yang membuat bengkak defisit transaksi berjalan.

"Defisit transaksi berjalan sektor migas untuk tahun 2021 diperkirakan meningkat menjadi sebesar USD 11 milIar.  Padahal pada tahun 2019 hanya sebesar  USD 10 miliar dan bahkan pada tahun 2020 hanya sebesar USD 6 miliar.

Lifting minyak kita memiliki target 1 juta bph (barel per hari) di tahun 2030.  Namun anehnya, target lifting tahunan bukannya naik, malah justru terus melorot. Target lifting minyak tahun 2019, 2020, 2021 dan tahun 2022 masing-masing sebesar 775, 755, 705 dan 704 bph. Terus turun.  Mana mungkin tercapai kalau tren-nya seperti ini.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis:

Baca Juga