Berharap Anaknya Diterima Masuk Polwan, Orang Tua di Ngawi Tertipu Ratusan Juta Rupiah

Ilustrasi
Ilustrasi

NITENI - Oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Ngawi, Jawa Timur ditahan, ditahannya PNS tersebut akibat terlibat penipuan dengan iming-iming bisa memasukan orang menjadi anggota Polisi Wanita (Polwan).

Awal mula begini, orang tua di Ngawi kepengin anaknya bisa menjadi polwan, Eh malah kena tipu oknum PNS, Rabu 5 Januari 2022.

Diketahui oknum tersebut berinisial PE menjabat sebagai Sekretaris Camat (Sekcam) Karangjati, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Hal di atas dibenarkan oleh Putra Reza Akzha kasie Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngawi saat diwawancarai. "Iya memang benar, korbannya satu yang diiming-imingi melalui terdakwa bisa memasukkan ke Polwan," katanya.

Tak hanya itu saja, guna melancarkan skenarionya PE juga mengaku kenal dengan salah satu jendral berbintang yang menjamin anak si korban bakalan lolos menjadi polwan.

Korban dimintai uang Rp 300 juta rupiah, uang sudah diserahkan ke PE, Namun hingga November 2021 janji PE tidak terbukti bahkan anak si korban dinyatakan tidak lolos. tukasnya.

Gregetan dengan janji-janji manis PE, akhrinya orang tua tersebut melaporkan tindak penipuan ke pihak kepolisian, mendasar dari laporan kini PE diamankan pihak berwajib dan Kejaksaan pada saat gelar monev di salah satu wilayah di Kecamatan Karangjati.

Hingga kini kasus penipuan tersebut tengah running di Kejaksaan Negeri (Kejari) Ngawi, berkas perkara menunggu pelimpahan ke pengadilan.

"Pada saat diamankan, PE tengah melakukan monev dan masih memakai baju dinasnya, saat ini PE diamankan di Polres Ngawi kendati menunggu penetapan pemindahan ke Lapas Ngawi," tandas Putra.

Di sesi penutup wawancara, Putra menegaskan sebenarnya PE berupaya mengembalikan uang korban, Namun sampai kasus ini dilaporkan PE baru bisa mengembalikan Rp 96 juta dan sudah diserahkan kepada korban.

Putra memperkirakan penipuan berkedok iming-iming tersebut dilakukan tidak hanya satu orang saja, tetapi sampai saat ini baru satu korban yang melapor.*

Penulis: Dimas Ridho

Baca Juga